Cari Blog Ini

Minggu, 02 Januari 2011

tujuh indikator kebahagiaan dunia

Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
bn Abbas is 7 (seven) world happiness indicators, namely:
* First, Qalbun syakirun or heart that is always grateful.
  Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
        Having a soul means always gratefully accept what is (Qona'ah)

 so that no excessive ambition, no stress, this

 delicious to the soul that is always grateful. An intelligent grateful

 very smart to understand the attributes of God Almighty, so that any

 instead he was given God's fascinated with the provision and decision

 God. When you have trouble then he immediately recalled the words of the Prophet

 SAW namely: "If we are unable to consider people more

 harder than us ". When you have given the ease, he was grateful to

 multiply the charity of worship, then God will test it

 with greater ease.

 If he remains "naughty" with God will continue to be grateful

 test it again with even greater ease. Then

 blessed are those who are good thanks!
           Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilahnikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukursangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yangdiberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita".Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi.Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur! 
 
Second. Al azwaju Shalihah, ie pious life partner.
 
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
*The couple lived a pious will create an atmosphere of home and

a pious family, too. In the Hereafter a husband

(as the family priest) will be held accountable in

took his wife and son to kesholehan. Blessed be

  a wife if you have a pious husband, who would have

work hard to bring his wife and son

become a pious Muslim. Similarly, a wife who is pious,

  will have the patience and sincerity exceptional in
serve her husband, despite how bad the behavior of her husband.

So blessed to be a husband who has a

a pious wife.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan 
keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami 
(sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam 
mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi
seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan 
bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya
menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh,
akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam
melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. 
Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang 
istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
*Third, al auladun Abrar, ie pious child.
When the Prophet Muhammad again thawaf. Prophet Muhammad met with

a young child who bruised his shoulder. Once completed thawaf

Prophet Muhammad asked the young man: "Why is your shoulder?"

Replied the young man: "O Messenger of Allah, I am from Yemen, I have

a mother who already udzur. I really love him and I

never let go of him. I let go of my mother only when

to relieve himself, when praying, or when a break, other than that

the rest I always picked him. "Then the young man asked:

"O Messenger of Allah, if I was included into the people who already

  dutiful to your parents? "The Prophet SAW said, hugging the young man

and said:

"It's God's blessing to you, you son of pious, filial piety,

but my children know, love your parents will not be shortchanged by you ".

From these hadiths that we get an idea of our worship

was not sufficient to repay the love and kindness of people

our parents, but at least we can start with a child

the pious, in which the pious prayer of a child to his parents

God granted guaranteed. Blessed are we when to have children

the pious.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan 
seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf 
Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" 
Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai
seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya 
tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika 
buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu 
sisanya saya selalu menggendongnya" . Lalu anak muda itu bertanya: 
" Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah
berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu 
dan mengatakan: 
"Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, 
tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". 
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita 
ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang 
tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak 
yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya 
dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak 
yang sholeh.
 
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk 
iman kita.
*Fourth, albiatu Sholihah, namely an environment conducive to

our faith.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh 
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat 
karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah 
terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah 
menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang
sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada 
kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-
orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman
dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. 
Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang 
yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu 
dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
What is meant by a conducive environment is, we may

know anyone but to make it as a friend

our friends, should be the people who have added value

against our faith. In a haditsnya, Messenger

encourages us to always hang out with people who

  pious. Pious people who will always invite the

goodness and remind us when we do wrong. People

pious people are the ones who are happy because of good faith

  and Islam is always delicious light radiated on his face.

Insha Allah it will come shining light people

are nearby. Blessed are those who always

surrounded by people who are pious.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Fifth, al malul halal, or lawful property.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta 
tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya
untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, 
Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa
mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, 
"Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya
didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. 
Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya
sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan 
menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, 
suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya.
Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti 
menjaga kehalalan hartanya.
Paradigm in Islam is not about wealth, riches

but halal. This does not mean that Islam did not tell his people

  for the rich. In narrated by Imam Muslim in the chapter sadaqoh,

Prophet Muhammad never met a friend who prays

  raised his hand. "You pray is good, " said the Prophet SAW,

"But unfortunately the food, beverages and clothing and place of residence

  we get it haram, how his prayer was granted. "

Blessed be the lawful property because their prayers

  God answered very easily. The property will also be kosher

Satan away from him, then his heart the more clean,

holy and strong, so give peace in his life.

  And blessed are those who always carefully

halalness maintain his property.


Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
 
Sixth, Tafakuh fi deen, or passion to understand the religion.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu
-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia 
terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-
sifat Allah dan ciptaan-Nya. 
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin
ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi 
cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi
cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” 
kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi 
cahaya nikmat Islam dan nikmat iman.
Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama
Islam.
Understand the spirit of religion is manifested in the spirit of understanding the science

Islamic religious sciences. The more he learns, the more he

stimulated to learn more about the nature of science-

the nature of God and His creation.

God promises blessings for His people studying, the more

  he learns more and love it to his religion, the higher the

his love for God and His apostles. Love is what will give

  light for the heart. The spirit of understanding the religion going to "live"

my heart, heart "alive" is the heart which is always fulfilled

delicious delicious light of Islam and faith.

  And blessed are those who fully understand the spirit of religious knowledge

  Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
 Seventh, the age of baroqah.
 Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah. 

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 Indikator Kebahagiaan Dunia
Age of baroqah it means that the older the age

  pious, that every second is filled with acts of worship. Someone

  that fill his life to the happiness of the world alone, the day

parents will be filled with many nostalgic (daydream)

about his youth, he also tends to be disappointed with ketuaannya

(post-power syndrome). Besides, his mind focused on

how to enjoy the rest of his life, so she began to busy

daydream world of pleasure that he has not had time

feel, his heart was disappointed when he was not able to enjoy the pleasures

  the diangankannya. Meanwhile, people who fill its age with

  many preparing for the afterlife (through acts of worship)

the older the more he longs to meet with the

Creator. Days filled with making out with her parents Sang

Compassionate. There is no fear to leave the world

  this, he even hope to soon feel the full beauty of nature

next life as God promised. This

spirit "alive" people who baroqah age, then

blessed are those whose age baroqah.

Thus the messages from Ibn Abbas. about 7 Indicators

World Happiness.
 
 

Tidak ada komentar: